Berita

  1. VADS
  2. Berita
  3. Ingin Meningkatkan Proactive Customer Service? Ini Caranya

Ingin Meningkatkan Proactive Customer Service? Ini Caranya

21 September 2026

Pelajari cara meningkatkan proactive customer service untuk memahami kebutuhan pelanggan, mencegah keluhan, dan menciptakan pengalaman yang lebih baik.

Image of Ingin Meningkatkan Proactive Customer Service? Ini Caranya

Cara meningkatkan proactive customer service

Pelanggan biasanya menghubungi customer service untuk berbagai kebutuhan, mulai dari menanyakan status pesanan hingga mencari tahu penyebab gangguan layanan. Namun, perusahaan sebenarnya dapat mengambil langkah lebih awal dengan memahami kebutuhan pelanggan sebelum mereka merasa perlu menghubungi customer service.

Inilah yang menjadi tujuan dari proactive customer service, yaitu memberikan informasi dan bantuan yang dibutuhkan pelanggan sebelum masalah muncul atau mereka harus meminta bantuan. Untuk meningkatkan proactive customer service, perusahaan dapat mulai dengan memahami pola kebutuhan pelanggan, memberikan informasi yang relevan, dan menyiapkan bantuan sebelum masalah berkembang menjadi keluhan. 

Bagaimana Cara Meningkatkan Proactive Customer Service?

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan perusahaan untuk membuat proactive customer service berjalan lebih efektif, yaitu:

1. Kenali kebutuhan pelanggan dari data

Langkah pertama adalah memahami apa yang sering dibutuhkan pelanggan. Perusahaan dapat melihat pertanyaan, keluhan, hingga pola interaksi yang paling sering muncul. Informasi tersebut dapat membantu menemukan kebutuhan yang bisa diantisipasi sejak awal. Misalnya, jika pelanggan sering menanyakan status pesanan, perusahaan dapat memberikan informasi tersebut sebelum pelanggan perlu bertanya.

2. Berikan Informasi Sebelum Pelanggan Bertanya

Ketika pelanggan sedang menunggu pesanan yang belum kunjung datang, informasi tentang keterlambatan bisa menjadi hal yang mereka butuhkan. Alih-alih meminta pelanggan membuka aplikasi atau menghubungi customer service, perusahaan dapat lebih dulu mengirimkan notifikasi mengenai kondisi pesanan. Informasi sederhana seperti ini dapat membuat pelanggan lebih tenang karena mereka tidak perlu mencari tahu sendiri. Langkah tersebut juga menunjukkan bahwa perusahaan memahami kebutuhan pelanggan dan siap memberikan informasi yang relevan.

3. Manfaatkan berbagai channel komunikasi

Pelanggan memiliki cara yang berbeda untuk berkomunikasi dengan perusahaan. Ada yang lebih nyaman menggunakan WhatsApp, email, media sosial, live chat, atau telepon. Karena itu, perusahaan perlu memastikan berbagai channel tersebut tetap saling terhubung. Melalui omnichannel, berbagai channel komunikasi dapat dikelola secara terintegrasi sehingga informasi dan riwayat interaksi pelanggan tetap tersambung, meskipun mereka berpindah dari satu channel ke channel lainnya. Dengan cara ini, pelanggan tidak perlu mengulang informasi setiap kali berpindah channel.

4. Gunakan teknologi untuk membaca pola interaksi

Proactive customer service tidak harus selalu dilakukan secara manual oleh tim. Teknologi dapat membantu perusahaan mengolah informasi dari interaksi pelanggan dan menemukan hal yang perlu segera ditindaklanjuti. Misalnya, sistem dapat membantu mengidentifikasi pertanyaan yang sering muncul atau pelanggan yang membutuhkan perhatian lebih. Tim customer service kemudian dapat mengambil tindakan yang sesuai sebelum masalah berkembang menjadi keluhan.

5. Siapkan respons untuk situasi yang sering terjadi

Tidak semua situasi perlu menunggu sampai pelanggan menghubungi perusahaan. Jika ada kondisi yang sudah dapat diperkirakan, perusahaan dapat menyiapkan informasi dan respons sejak awal. Contohnya ketika ada gangguan layanan, perubahan jadwal, keterlambatan pengiriman, atau masa perpanjangan layanan. Dengan persiapan tersebut, tim dapat memberikan informasi dengan lebih cepat sehingga pelanggan mengetahui kondisi yang terjadi dan langkah yang perlu dilakukan selanjutnya.

6. Tetap berikan sentuhan manusia

Teknologi memang membantu perusahaan bergerak lebih cepat, tetapi pelanggan tetap membutuhkan bantuan yang sesuai dengan situasi mereka. Karena itu, komunikasi proaktif sebaiknya tidak terasa seperti pesan otomatis yang dikirim tanpa mempertimbangkan kondisi pelanggan. Gunakan informasi yang relevan dan berikan kesempatan bagi pelanggan untuk mendapatkan bantuan dari agen ketika dibutuhkan. Perpaduan teknologi dan sentuhan manusia dapat membuat layanan terasa lebih personal.

Meningkatkan proactive customer service tidak berarti perusahaan harus memprediksi semua kebutuhan pelanggan. Mulailah dari hal-hal yang paling sering terjadi, lalu gunakan data, teknologi, dan komunikasi yang tepat untuk membantu pelanggan sebelum mereka perlu meminta bantuan. Dengan cara ini, customer service tidak hanya hadir ketika ada masalah, tetapi juga membantu menciptakan pengalaman yang lebih mudah sejak awal.

Bagi perusahaan yang ingin menerapkan proactive customer service secara lebih konsisten, pemanfaatan teknologi customer experience dapat membantu menghubungkan berbagai interaksi dan memberikan respons yang lebih relevan. PT VADS Indonesia menyediakan solusi customer experience yang membantu perusahaan mengelola berbagai channel pelanggan secara lebih terintegrasi. Dengan dukungan solusi Omnichannel, perusahaan dapat membangun pengalaman pelanggan yang lebih terhubung dan konsisten.



Bersama melangkah lebih maju untuk masa depan bisnis Anda.

Hubungi kami segera untuk mengetahui bagaimana VADS dapat membantu meningkatkan bisnis Anda.

Saya Tertarik