Articles

Strategi CRM untuk B2B vs B2C: Mana yang Lebih Kompleks?

Dipos pada 24 Jul 2025

Customer Relationship Management (CRM) merupakan elemen krusial dalam membangun dan mempertahankan hubungan jangka panjang dengan pelanggan. Baik dalam model bisnis Business to Business (B2B) maupun Business to Consumer (B2C), CRM menjadi pilar utama dalam menciptakan pengalaman pelanggan yang berkualitas. Meskipun keduanya memiliki tujuan yang sama yaitu menjaga loyalitas pelanggan dan meningkatkan nilai bisnis, pendekatan yang digunakan seringkali sangat berbeda. Perbedaan ini mencakup cara komunikasi, durasi siklus pembelian, tingkat personalisasi, hingga strategi teknologi yang digunakan. Dengan memahami perbedaan tersebut, Anda dapat merancang dan menerapkan strategi CRM yang sesuai dengan karakteristik audiens dan kebutuhan bisnis Anda.

Bagaimana Jenis Pelanggan Mempengaruhi Strategi CRM? 

Untuk menerapkan strategi CRM secara tepat, penting bagi Anda untuk memahami perbedaan mendasar antara pendekatan terhadap pelanggan perusahaan (B2B) dan pelanggan individu (B2C). Keduanya memiliki karakteristik yang berbeda dalam hal cara membangun hubungan, menyusun strategi komunikasi, serta penggunaan teknologi yang mendukung.

 

Dalam model B2B, hubungan yang dibangun bersifat jangka panjang dan lebih kompleks. Setiap transaksi biasanya melibatkan banyak pemangku kepentingan, seperti tim pembelian, divisi teknis, hingga pimpinan perusahaan. Proses pengambilan keputusan pun cenderung lebih panjang dan memerlukan pendekatan berbasis konsultasi. Oleh karena itu, CRM B2B difokuskan untuk mendukung manajemen akun secara mendalam, mengelola pipeline penjualan, serta menyesuaikan layanan dengan kebutuhan spesifik setiap klien.

 

Sebaliknya, pendekatan CRM dalam B2C cenderung lebih langsung karena berhadapan dengan individu sebagai pelanggan. Keputusan pembelian dilakukan lebih cepat dan sering kali dipengaruhi oleh faktor emosional. Di sinilah pentingnya CRM B2C yang mampu menangani transaksi dalam jumlah besar, memberikan komunikasi yang personal, serta merespons dengan cepat. Penggunaan otomatisasi pemasaran, segmentasi pelanggan, dan analisis perilaku menjadi kunci utama dalam menjangkau dan mempertahankan konsumen secara efisien.

Kompleksitas dalam CRM B2B

Strategi CRM di bisnis B2B membutuhkan sistem yang bisa mengelola berbagai interaksi sekaligus, mulai dari pertemuan awal dengan calon klien hingga layanan setelah penjualan selesai. Untuk mendukung hal tersebut, CRM B2B perlu mampu mengelola berbagai lapisan komunikasi yang melibatkan banyak pihak dalam satu perusahaan. Kompleksitas ini mengharuskan sistem yang tidak hanya fleksibel, tetapi juga terstruktur dan responsif terhadap dinamika bisnis yang terus berkembang. Dua bentuk kompleksitas dalam CRM B2B yang umumnya terjadi, yaitu: 

Struktur Interaksi yang Lebih Luas

Karena melibatkan beberapa departemen dalam satu organisasi, CRM B2B perlu mencatat semua interaksi secara rinci dan terkoordinasi. Riwayat komunikasi, dokumen penawaran, dan jadwal follow up menjadi data penting yang harus selalu terbarui agar tidak terjadi miskomunikasi antar tim.

Proses Penjualan yang Panjang dan Bertahap

CRM untuk B2B juga harus mendukung proses penjualan yang panjang, mulai dari prospek awal, diskusi teknis, negosiasi harga, hingga finalisasi kontrak. Oleh sebab itu, dibutuhkan fitur-fitur lanjutan seperti pipeline manajemen, sistem notifikasi tugas, dan dashboard pemantauan performa yang bisa membantu tim dalam merencanakan langkah strategis selanjutnya.

Tantangan dan Pendekatan dalam CRM B2C

Walau terlihat lebih sederhana karena berhubungan langsung dengan konsumen individu, CRM B2C memiliki tantangan tersendiri yang tidak kalah kompleks.

CRM dalam bisnis B2C mengharuskan perusahaan untuk memberikan layanan yang cepat, personal, dan relevan dalam skala besar. Hal ini mengharuskan strategi yang berbeda dari B2B, terutama dalam pengelolaan data dan cara menyampaikan pesan kepada pelanggan. Dua tantangan dan pendekatan dalam CRM B2C yang paling umum terjadi, yaitu: 

Ekspektasi Konsumen terhadap Kecepatan dan Relevansi

Pelanggan B2C umumnya menginginkan layanan yang cepat, nyaman, dan sesuai dengan preferensi mereka. CRM dalam konteks ini harus mampu menyajikan informasi yang relevan secara real time, mulai dari penawaran promo, rekomendasi produk, hingga notifikasi pengiriman.

Pengelolaan Data dalam Skala Besar

CRM B2C membutuhkan sistem yang tangguh dalam mengelola jutaan data pelanggan, termasuk riwayat pembelian, aktivitas digital, serta preferensi personal. Segmentasi otomatis berdasarkan demografi, kebiasaan belanja, dan perilaku online menjadi kunci utama dalam menciptakan kampanye yang lebih efektif.

Tujuan Akhir dan Parameter Keberhasilan

Fokus utama dalam CRM B2B adalah mempertahankan hubungan jangka panjang yang bernilai tinggi. Indikator keberhasilan diukur dari loyalitas klien, peningkatan nilai kontrak, serta efisiensi proses penjualan.

Setiap model bisnis memiliki tujuan yang berbeda dalam penerapan CRM. Dengan mengetahui ukuran keberhasilan yang digunakan, Anda dapat merancang pendekatan yang lebih terarah dalam menjangkau dan mempertahankan pelanggan. Sementara dalam CRM B2C, metrik keberhasilan lebih mengarah pada kepuasan pelanggan, peningkatan frekuensi pembelian, serta retensi pengguna.

CRM B2B lebih mengutamakan komunikasi yang formal dan berbasis konsultatif, sedangkan CRM B2C lebih dinamis dan emosional. Strategi komunikasi pun harus disesuaikan agar mampu menyentuh kebutuhan dan ekspektasi masing-masing segmen pasar.

Peran Teknologi dalam Strategi CRM

Pemanfaatan teknologi dalam CRM menjadi faktor penentu keberhasilan dalam mengelola pengalaman pelanggan. Baik dalam model B2B maupun B2C, teknologi memberikan kemudahan dalam mengintegrasikan informasi, mempercepat proses kerja, serta meningkatkan konsistensi layanan. Berikut adalah aspek-aspek penting dari peran teknologi dalam penerapan CRM:

Integrasi Sistem dan Otomatisasi

Dalam B2B, CRM biasanya terintegrasi dengan sistem ERP, alat kolaborasi proyek, serta platform keuangan untuk memastikan semua tim memiliki akses terhadap informasi yang sama. Hal ini memungkinkan proses yang lebih sinkron, terutama dalam menangani proyek-proyek besar.

Sementara dalam B2C, integrasi CRM seringkali dilakukan dengan e-commerce, loyalty program, media sosial, dan alat pemasaran otomatis. Hal ini memungkinkan perusahaan memberikan pengalaman pelanggan yang mulus dan konsisten di berbagai kanal digital.

Skalabilitas vs Kustomisasi

CRM B2B dituntut untuk fleksibel dalam mengakomodasi kebutuhan unik tiap klien. Sistem harus mampu disesuaikan berdasarkan skenario bisnis tertentu, baik dari sisi proses maupun dokumentasi. Di sisi lain, CRM B2C lebih menitikberatkan pada kemampuan sistem untuk menangani data dalam skala besar dengan kecepatan tinggi tanpa kehilangan akurasi.

Baik strategi CRM untuk B2B maupun B2C memiliki kompleksitas dan tantangannya masing-masing. Tidak ada yang benar-benar lebih mudah atau lebih sulit; keduanya memerlukan pendekatan yang tepat dan teknologi yang mendukung. Hal yang membedakan adalah bagaimana strategi CRM tersebut disesuaikan dengan pola interaksi pelanggan dan struktur bisnis yang dihadapi.

Dengan pemahaman yang tepat, Anda dapat membangun sistem CRM yang tidak hanya efisien, tetapi juga mampu meningkatkan loyalitas dan pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan.

Kelola hubungan pelanggan Anda secara lebih efektif dengan dukungan solusi CRM terintegrasi dari PT VADS Indonesia. Beragam layanan yang ditawarkan dirancang untuk meningkatkan kualitas interaksi sekaligus menghadirkan pengalaman pelanggan yang bernilai. Pelajari lebih lanjut tentang layanan PT VADS Indonesia di sini.



Articles

6 Cara Memaksimalkan Contact Center Untuk Meningkatkan Kepuasan Pelanggan

Dipos pada 21 Jul 2025

Seiring meningkatnya ekspektasi pelanggan terhadap layanan yang cepat, personal, dan konsisten di semua channel, contact center kini berperan lebih dari sekadar menjawab pertanyaan, melainkan juga menciptakan pengalaman layanan yang menyeluruh dan bernilai. Setiap interaksi harus mampu memberikan kesan positif yang berkelanjutan. Untuk itu, simak strategi berikut guna memaksimalkan contact center demi pengalaman pelanggan yang unggul.

Mengapa Contact Center Penting dalam Kepuasan Pelanggan?

Contact center adalah tempat pertama yang dihubungi pelanggan saat berkomunikasi dengan perusahaan. Lewat berbagai saluran seperti telepon, chat, email, media sosial, atau instant messaging, pelanggan akan menilai seberapa baik layanan brand berdasarkan pengalaman mereka saat dilayani. Pengalaman positif di contact center inilah yang terbukti dapat meningkatkan kemungkinan pelanggan untuk melakukan pembelian ulang, merekomendasikan brand, dan menjadi pelanggan setia.

Menurut riset dari Emplifi, 70% konsumen mengaku akan berhenti menggunakan suatu brand setelah dua pengalaman buruk, dan hampir seperempatnya bahkan sudah enggan membeli kembali hanya karena satu pengalaman negatif. Riset ini semakin memperkuat alasan bahwa brand dituntut untuk memberikan pengalaman pelanggan yang positif sejak awal jika ingin membangun hubungan jangka panjang dengan konsumennya melalui contact center. Karena itu, mengoptimalkan contact center menjadi langkah strategis untuk menjaga kepuasan pelanggan sekaligus mendukung kesuksesan bisnis secara menyeluruh.

Strategi Memaksimalkan Contact Center

Berikut adalah beberapa strategi penting yang dapat Anda terapkan untuk memaksimalkan peran contact center dalam menciptakan pengalaman pelanggan yang unggul:

1. Integrasikan Omnichannel untuk Layanan yang Konsisten

Pelanggan saat ini mengharapkan pengalaman yang mulus ketika berpindah dari satu channel ke channel lainnya. Oleh karena itu, Anda perlu memastikan bahwa sistem contact center mendukung integrasi omnichannel yang memungkinkan agen melihat riwayat interaksi pelanggan secara real time, terlepas dari channel komunikasi yang digunakan. Dengan pendekatan ini, pelanggan tidak perlu mengulang pertanyaan atau masalah mereka berkali-kali, karena agen sudah memiliki konteks dari interaksi sebelumnya.

2. Gunakan Teknologi AI dan Otomatisasi

Pemanfaatan teknologi seperti chatbot, voicebot, dan sistem routing otomatis dapat meningkatkan efisiensi layanan sekaligus memberikan pengalaman pelanggan yang lebih cepat dan responsif. AI juga dapat digunakan untuk menganalisis sentimen pelanggan, memprediksi kebutuhan, dan merekomendasikan solusi secara otomatis kepada agen. 

Namun, penting bagi Anda untuk tetap menjaga keseimbangan antara otomatisasi dan sentuhan manusia. Teknologi harus mendukung agen, bukan menggantikannya sepenuhnya.

3. Fokus pada Pelatihan Agen Berbasis Empati

Kualitas agen sangat menentukan hasil dari pengalaman pelanggan. Selain keterampilan teknis, agen juga perlu dibekali dengan kemampuan komunikasi yang baik, pengendalian emosi, dan pemahaman terhadap kebutuhan pelanggan. Program pelatihan yang berkelanjutan, sesi roleplay, serta umpan balik dari supervisor atau pelanggan dapat membantu agen berkembang menjadi representasi terbaik dari brand.

4. Pantau Kinerja dengan KPI yang Relevan

Mengukur efektivitas contact center memerlukan key performance indicator (KPI) yang tepat. Beberapa metrik utama yang sebaiknya Anda pantau antara lain:

  • First Call Resolution (FCR): Seberapa sering masalah pelanggan diselesaikan dalam satu kali kontak.

  • Average Handling Time (AHT): Rata-rata waktu yang dibutuhkan agen untuk menyelesaikan interaksi.

  • Customer Satisfaction Score (CSAT): Tingkat kepuasan pelanggan terhadap layanan yang diberikan.

  • Net Promoter Score (NPS): Seberapa besar kemungkinan pelanggan merekomendasikan brand Anda.

Evaluasi rutin terhadap KPI tersebut akan membantu Anda mengidentifikasi area yang perlu ditingkatkan.

5. Gunakan Analitik Data untuk Insight Mendalam

Data dari contact center menyimpan informasi berharga tentang preferensi, keluhan, dan perilaku pelanggan. Anda dapat memanfaatkan analitik untuk mengidentifikasi tren, memetakan pain point, dan mengembangkan strategi layanan yang lebih tepat sasaran. Misalnya, jika banyak pelanggan yang mengeluhkan hal serupa, Anda bisa segera memperbaiki proses internal atau memberikan solusi proaktif sebelum masalah meluas.

6. Tingkatkan Kecepatan Respons dan Ketersediaan Layanan

Pelanggan menghargai layanan yang cepat dan mudah diakses. Menyediakan contact center yang beroperasi 24/7 atau mendukung self service melalui FAQ, knowledge base, dan chatbot akan meningkatkan kenyamanan pelanggan. Respons yang cepat dapat menurunkan tingkat frustrasi pelanggan dan mencegah eskalasi masalah yang tidak perlu.

Untuk meningkatkan kinerja contact center, dibutuhkan investasi pada teknologi, pelatihan, dan integrasi sistem. Meski memerlukan usaha, hasilnya sangat bermanfaat. Pengalaman pelanggan yang lebih baik dapat meningkatkan kepuasan, mengurangi pelanggan yang pergi, dan mendorong pertumbuhan bisnis melalui loyalitas. Anda tidak hanya membangun relasi jangka pendek, tetapi juga menciptakan dasar kepercayaan untuk pertumbuhan jangka panjang.

 

Mengoptimalkan contact center bukan pekerjaan sekali selesai, melainkan proses berkelanjutan yang melibatkan kerja sama antar tim, penerapan teknologi, dan komitmen terhadap kualitas layanan. Saat Anda mampu memberikan layanan yang cepat, ramah, dan konsisten, pelanggan akan melihat contact center sebagai keunggulan brand, bukan sekadar tempat menyampaikan keluhan.


Layanan pelanggan yang cepat, responsif, dan konsisten kini bisa Anda wujudkan dengan menggunakan solusi Contact Center terintegrasi dari PT VADS Indonesia. Dukungan ini akan membantu meningkatkan kualitas interaksi serta membangun kepercayaan pelanggan terhadap bisnis Anda. Klik di sini untuk informasi lengkapnya.

Articles

8 Hal yang Wajib Dilakukan Sebelum Memilih Perusahaan BPO

Dipos pada 17 Jul 2025

Meningkatkan efisiensi operasional dan menjaga fokus pada kegiatan inti perusahaan merupakan langkah penting agar tetap unggul di tengah persaingan yang terus berkembang. Salah satu strategi yang terbukti efektif adalah menjalin kemitraan dengan penyedia layanan Business Process Outsourcing (BPO). Meski begitu, proses pemilihan mitra BPO tidak boleh dilakukan secara keliru. Pilihan yang tepat dapat mempercepat pertumbuhan perusahaan, sementara keputusan yang keliru justru berisiko menimbulkan tantangan baru. Agar kemitraan dengan BPO benar-benar memberikan nilai tambah, penting bagi Anda untuk mengetahui apa saja yang perlu dipertimbangkan sebelum memilih mitra yang tepat. 

Apa Saja Tips Memilih Perusahaan BPO yang Tepat untuk Bisnis? 

Dengan panduan yang tepat, Anda dapat memilih mitra outsourcing yang selaras dengan tujuan, nilai, dan kebutuhan perusahaan secara menyeluruh. Berikut ini adalah panduan lengkap yang bisa Anda gunakan dalam proses pemilihan perusahaan BPO yang ideal: 

1. Pahami Tujuan dan Kebutuhan Perusahaan 

Sebelum memilih BPO, pastikan Anda memahami apa yang ingin perusahaan capai. Apakah tujuan perusahaan Anda menghemat biaya, meningkatkan efisiensi operasional, atau mengembangkan perusahaan ke bidang baru? Dengan memahami kebutuhan spesifik, Anda dapat mencari BPO yang memiliki keahlian di bidang tersebut. 

2. Pilih BPO yang Berpengalaman  

Setiap industri memiliki karakteristik dan tantangan tersendiri. Oleh karena itu, sangat penting memilih perusahaan BPO yang berpengalaman di sektor bisnis Anda. BPO yang berpengalaman akan lebih cepat beradaptasi, memahami regulasi yang relevan, dan mampu memberikan solusi yang tepat sasaran. 

3. Perhatikan Kualitas Teknologi dan Inovasi 

Di era digital, teknologi adalah fondasi utama dalam layanan BPO. Pastikan BPO yang Anda pilih menggunakan sistem yang terbaru, aman, dan terintegrasi. Fitur seperti dashboard real time, integrasi dengan platform HR atau keuangan, serta kemampuan analitik akan sangat membantu dalam pengambilan keputusan bisnis. 

4. Tinjau Keamanan dan Kepatuhan Data 

Layanan BPO sering kali menangani data sensitif seperti informasi karyawan, keuangan, dan pelanggan. Oleh karena itu, penting memastikan bahwa BPO memiliki standar keamanan yang tinggi, seperti sertifikasi ISO, enkripsi data, dan sistem kontrol akses yang ketat. Pastikan juga bahwa BPO memahami dan mematuhi regulasi perlindungan data yang berlaku di Indonesia. 

5. Evaluasi Fleksibilitas dan Skalabilitas Layanan 

Kebutuhan bisnis dapat berubah seiring waktu. BPO yang baik adalah BPO yang mampu tumbuh bersama perusahaan Anda. Pilihlah BPO yang fleksibel dalam menyesuaikan layanan, mendukung multi-lokasi dan multi-waktu, serta mampu meningkatkan kapasitas saat dibutuhkan tanpa mengganggu operasional. 

6. Nilai Transparansi dan Kejelasan SLA 

Perjanjian Tingkat Layanan (Service Level Agreement/SLA) adalah hal penting yang tidak boleh diabaikan. Pastikan SLA mencakup detail seperti cakupan layanan, indikator kinerja utama (KPI), waktu respons, serta prosedur eskalasi masalah.  

7. Tinjau Kualitas SDM dan Pelatihan 

Tenaga kerja yang berkualitas menjadi salah satu pilar keberhasilan layanan BPO. Cari tahu bagaimana BPO melatih staf mereka, bagaimana proses quality assurance dilakukan, dan apakah BPO menyediakan pelaporan performa secara berkala. Semakin baik pelatihan dan pemantauan, semakin tinggi kualitas layanan yang akan Anda terima. 

8. Perhatikan Kesesuaian Budaya dan Komunikasi 

Walau terdengar sederhana, kecocokan budaya kerja dan gaya komunikasi sangat berpengaruh pada keberhasilan kerja sama jangka panjang. Pilih penyedia yang responsif, terbuka terhadap feedback, dan memiliki gaya kerja yang sejalan dengan nilai-nilai perusahaan Anda. 

Memilih perusahaan BPO bukan hanya soal harga atau efisiensi jangka pendek. Ini adalah keputusan strategis yang berdampak langsung pada kualitas operasional dan citra perusahaan Anda. Dengan mempertimbangkan faktor-faktor di atas secara menyeluruh, Anda akan lebih siap menentukan mitra outsourcing yang mampu memberikan nilai terbaik bagi bisnis Anda. 

Dengan pengalaman lebih dari satu dekade, teknologi terkini, serta tim profesional yang andal, VADS Indonesia siap menjadi mitra strategis untuk mendukung efisiensi dan pertumbuhan bisnis Anda. Mulai perjalanan transformasi Anda sekarang di sini. 

 

Articles

Wajib Tahu! Ini Perbedaan Omnichannel Pada B2B dan B2C

Dipos pada 14 Jul 2025

Omnichannel adalah strategi pemasaran yang menghubungkan berbagai jalur komunikasi dengan pelanggan, seperti toko fisik, e-commerce, media sosial, aplikasi, email, hingga layanan pelanggan dengan tetap mengutamakan kenyamanan dalam berinteraksi. Saat ini, pendekatan ini menjadi dasar penting untuk menciptakan pengalaman pelanggan yang konsisten dan memuaskan. Meski begitu, penerapan omnichannel pada pasar B2B (business to business) dan B2C (business to consumer) memiliki perbedaan signifikan yang perlu dipahami agar strategi bisa disesuaikan dengan karakter masing-masing model bisnis. 

Konsumen B2C umumnya berbelanja secara impulsif dan mengambil keputusan dengan cepat. Mereka mungkin melihat produk di media sosial, membandingkan di aplikasi e-commerce, lalu langsung melakukan pembelian hanya dalam beberapa menit. Sebaliknya, proses pembelian di pasar B2B jauh lebih kompleks dan melibatkan lebih banyak pihak. Dalam B2B, keputusan biasanya memerlukan negosiasi, penilaian vendor, serta pemenuhan berbagai standar internal perusahaan sebelum transaksi disetujui. 

Meskipun strategi omnichannel diterapkan di berbagai jenis bisnis, pendekatannya tidak bisa disamaratakan. Setiap model bisnis memiliki karakteristik dan kebutuhan yang berbeda, termasuk antara pasar B2B dan B2C. 

Apa Perbedaan Omnichannel Pada B2B vs B2C?  

Setiap model bisnis memiliki pendekatan tersendiri dalam menghadirkan pengalaman pelanggan yang terintegrasi. Strategi omnichannel pada B2C dan B2B memiliki karakteristik yang berbeda, baik dari segi tujuan, proses, hingga sistem pendukungnya. Untuk memahami perbedaan keduanya secara lebih mendalam, berikut beberapa aspek penting yang perlu diperhatikan, seperti:  

Kompleksitas Perjalanan Pelanggan dan Channel yang Digunakan 

Pelanggan B2C biasanya berinteraksi melalui berbagai channel yang langsung terhubung dengan mereka, seperti toko online, media sosial, dan email promosi. Mereka menginginkan pengalaman yang cepat dan mudah saat berpindah dari satu channel ke channel lainnya. Karena itu, fitur seperti program loyalitas, ulasan produk, dan metode pembayaran harus saling terhubung agar proses belanja terasa mulus tanpa hambatan. 

Sementara itu, B2B melibatkan lebih banyak titik kontak yang mencakup portal khusus, sistem e-commerce yang terhubung dengan ERP, layanan teknis, pertemuan virtual, hingga interaksi langsung dengan tim penjualan. McKinsey bahkan mencatat bahwa perusahaan B2B rata-rata menggunakan lebih dari 10 channel berbeda dalam satu siklus interaksi pelanggan. Hal ini menunjukkan bahwa strategi omnichannel pada B2B harus jauh lebih terstruktur dan mendalam.  

Pendekatan Personalisasi dan Manajemen Data 

Dalam konteks B2C, personalisasi biasanya ditujukan untuk setiap individu. Sistem akan menyarankan produk berdasarkan apa yang pernah dicari atau dibeli pengguna sebelumnya. Hal ini bisa dilakukan karena adanya teknologi AI dan data analytics yang menganalisis preferensi pengguna secara langsung dan cepat. 

Sementara pada B2B, pendekatan personalisasi dilakukan pada level akun atau organisasi. Misalnya, harga khusus untuk klien tertentu, volume pesanan yang disesuaikan, atau akses ke portal dengan fitur yang sudah di kustomisasi sesuai kebutuhan masing-masing klien. Personalisasi pada B2B lebih kompleks karena mempertimbangkan dinamika dan struktur internal pelanggan, bukan sekadar perilaku satu orang pengguna. 

Integrasi Teknologi dan Sistem Pendukung 

Agar strategi omnichannel berjalan dengan baik, dibutuhkan dukungan teknologi yang solid. Dalam konteks B2C, berbagai sistem seperti CRM, platform e-commerce, dan metode pembayaran harus saling terhubung agar transaksi dan layanan pelanggan bisa berlangsung lancar. Selain itu, integrasi dengan media sosial dan program loyalitas juga penting untuk memastikan pengalaman pengguna terasa menyatu dan konsisten di setiap titik kontak. 

Sementara itu, perusahaan B2B memerlukan sistem yang terintegrasi secara lebih kompleks, karena harus mencakup CRM, ERP, platform manajemen produk, dan layanan pelanggan melalui portal. Sistem ini tidak hanya berfungsi untuk mengatur informasi produk dan stok secara real time, tetapi juga harus bisa menangani permintaan penawaran harga, memantau status pengiriman, serta melacak proyek dalam satu platform yang dapat diakses oleh berbagai pihak terkait. 

Model Transaksi dan Relasi Pelanggan 

B2C cenderung berfokus pada transaksi cepat dengan sistem pembayaran instan seperti e-wallet atau kartu kredit. Di sisi lain, B2B menerapkan model transaksi yang lebih fleksibel dan bersifat jangka panjang. Pembayaran dilakukan berdasarkan invoice, sistem termin, atau kesepakatan kontrak khusus. Hubungan antara perusahaan dan pelanggan B2B juga lebih bersifat relasional dibandingkan transaksional. Dukungan setelah produk digunakan, seperti bantuan teknis dan perjanjian layanan, memainkan peran penting dalam membangun kepercayaan pelanggan untuk jangka panjang. 

Membedakan kebutuhan omnichannel antara B2C dan B2B bukan berarti memilih salah satu pendekatan, tetapi bagaimana menyesuaikan strategi secara optimal. B2C membutuhkan kecepatan, kenyamanan, dan pengalaman pelanggan yang bersifat instan dan personal. Sementara B2B membutuhkan struktur, kedalaman layanan, dan pendekatan yang kolaboratif. Teknologi menjadi jembatan utama dalam mewujudkan keduanya, asalkan perusahaan mampu merancang sistem yang fleksibel, terintegrasi, dan berbasis data. 

Solusi omnichannel yang aman dan terintegrasi kini hadir untuk mendukung bisnis B2B maupun B2C dalam menciptakan pengalaman pelanggan yang unggul. Bersama PT VADS Indonesia, transformasi digital dapat berjalan lebih efisien dan strategis. Mulai transformasi digital Anda di sini

Articles

Bukan Sekadar Posting Ini Alasan Social Media Management Wajib untuk Bisnis Modern

Dipos pada 10 Jul 2025

Media sosial kini telah berkembang menjadi saluran komunikasi strategis bagi berbagai jenis organisasi, mulai dari perusahaan rintisan hingga korporasi global. Jika Anda mengelola sebuah bisnis, besar kemungkinan Anda telah menyadari bahwa media sosial bukan sekadar platform untuk berbagi konten, tetapi juga alat penting dalam membangun hubungan, reputasi, dan konversi bisnis. 

 

Agar potensi ini dapat dimaksimalkan secara efektif dan efisien, diperlukan pengelolaan yang terstruktur dan berkelanjutan. Inilah mengapa social media management atau manajemen media sosial menjadi bagian penting dalam strategi digital modern. 

 

Apa Itu Social Media Management

Social media management adalah proses perencanaan, pengorganisasian, publikasi, analisis, dan interaksi terhadap konten yang diterbitkan melalui berbagai platform media sosial seperti Instagram, Facebook, X (Twitter), LinkedIn, TikTok, dan lainnya. Proses ini tidak hanya mencakup pembuatan konten yang menarik, tetapi juga berinteraksi dengan audiens, mengelola reputasi brand, serta mengevaluasi dampak konten terhadap tujuan bisnis. 

 

Melalui pendekatan yang terstruktur, manajemen media sosial membantu perusahaan memahami tren digital, menjaga konsistensi pesan yang ingin disampaikan brand, dan merespons dinamika pasar secara real time. Selain itu, social media management juga dapat dilakukan secara internal oleh tim pemasaran perusahaan, atau dikelola secara profesional oleh penyedia layanan eksternal. 

 

Fungsi dan Manfaat Social Media Management 

 

Bila dikelola secara tepat, social media management memberikan berbagai fungsi strategis dan manfaat nyata bagi bisnis Anda, seperti:  

 

1. Meningkatkan Brand Awareness 

Media sosial adalah alat yang efektif untuk membuat brand Anda lebih dikenal di ranah digital. Dengan pengelolaan yang tepat, konten yang dipublikasikan bisa tetap konsisten, menarik, dan sesuai dengan minat audiens yang dituju. Semakin sering konten Anda muncul di linimasa pengguna, semakin besar pula peluang brand Anda melekat di benak mereka. Hal inilah yang kemudian bisa bermanfaat untuk meningkatkan brand awareness

2. Meningkatkan Interaksi dan Loyalitas Pelanggan 

Media sosial kini lebih dari sekadar tempat promosi, tapi merupakan ‘jembatan’ komunikasi langsung antara bisnis dan pelanggan. Lewat komentar, pesan pribadi atau direct message, hingga survei interaktif, perusahaan bisa membangun kedekatan yang lebih personal dengan pelanggan. Dengan pengelolaan media sosial yang tepat, setiap respons bisa diberikan dengan cepat, sesuai kebutuhan, dan tetap profesional, sehingga membantu membangun kepercayaan serta menjaga loyalitas pelanggan. 

3. Membantu Bisnis Untuk Membuat Keputusan yang Lebih Tepat 

Data yang dihasilkan dari aktivitas media sosial, seperti engagement rate, sentimen audiens, dan tren topik memberikan wawasan berharga bagi pengambilan keputusan strategis. Dengan memanfaatkan analitik media sosial, perusahaan dapat mengukur efektivitas kampanye digital dan menyesuaikan strategi secara real time

 

4. Menjaga Reputasi dan Manajemen Krisis 

 

Satu komentar negatif atau isu yang viral dapat memengaruhi citra perusahaan secara signifikan. Di sinilah peran social media management sangat penting untuk memantau percakapan publik, menangani keluhan pelanggan secara cepat, dan menanggapi isu sensitif secara terukur. Dengan pengelolaan yang responsif dan transparan, reputasi perusahaan dapat dijaga dengan lebih baik. 

 

5. Efisiensi Operasional dan Konsistensi Komunikasi 

 

Dengan banyaknya platform media sosial yang digunakan saat ini, koordinasi konten dapat menjadi tantangan tersendiri. Social media management menyediakan sistem terpusat untuk penjadwalan konten, persetujuan editorial, hingga pelaporan hasil. Hal ini menciptakan efisiensi operasional yang tinggi dan menjaga konsistensi pesan di seluruh kanal komunikasi digital. 

 

Perusahaan Besar yang Telah Menerapkan Social Media Management 

 

Manajemen media sosial bukan hanya relevan bagi bisnis skala kecil dan menengah. Berbagai perusahaan besar dunia telah memanfaatkan layanan ini sebagai bagian integral dari strategi pemasaran mereka: 

 

  • Samsung Electronics menggunakan media sosial untuk memperkuat peluncuran produk, menjalin interaksi yang lebih dekat dengan pelanggan, dan membangun komunitas pengguna global. Mereka memanfaatkan pendekatan berbasis data untuk menyesuaikan konten dan waktu tayang di berbagai negara, termasuk Asia Tenggara dan Timur Tengah. 
  • Grab sebagai perusahaan teknologi asal Asia Tenggara, aktif menggunakan media sosial untuk memberikan informasi layanan, merespons kebutuhan pelanggan secara cepat, serta mengkampanyekan nilai-nilai lokal yang relevan dengan masyarakat. Strategi ini didukung oleh sistem pengelolaan konten yang terintegrasi dan tim monitoring yang adaptif. 
  • Airbnb menerapkan pendekatan storytelling visual di Instagram dan TikTok untuk mendorong engagement dan brand loyalty. Strategi mereka melibatkan analisis performa secara mendalam dan penyesuaian pesan berdasarkan segmentasi audiens. 

 

Ketiganya merupakan contoh nyata bagaimana social media management bukan sekadar alat pemasaran, tetapi juga bagian dari pengalaman pelanggan secara menyeluruh. 

  

Social media management bukan lagi pilihan tambahan, melainkan kebutuhan strategis untuk membangun citra, meningkatkan engagement, dan mempertahankan keunggulan kompetitif di tengah pasar yang serba cepat. Dengan pendekatan yang tepat, media sosial dapat menjadi kanal yang tidak hanya memperluas jangkauan, tetapi juga memperdalam hubungan perusahaan Anda dengan pelanggan. 

 

Optimalkan komunikasi digital bisnis Anda dengan layanan Social Media Care Management yang andal dan terintegrasi dari PT VADS Indonesia. Kelola interaksi pelanggan secara lebih efisien dan profesional hanya melalui satu platform. 

 

 

 

Articles

7 Masalah Umum dalam Sistem Payroll dan Cara Tepat Mengatasinya

Dipos pada 07 Jul 2025

Pengelolaan gaji atau payroll bukan hanya sekadar aktivitas rutin bulanan. Di baliknya, terdapat proses yang kompleks dan penuh tanggung jawab, mulai dari memastikan kepatuhan hukum hingga menjaga kepercayaan karyawan. Untuk menghindari kesalahan yang bisa berdampak besar, penting bagi perusahaan untuk memahami tantangan utama dalam sistem payroll serta solusi yang tepat. 

Sebagai fondasi dari hubungan kerja yang sehat dan profesional, sistem payroll harus dikelola secara cermat dan adaptif. Proses ini melibatkan banyak aspek administratif, teknis, dan kebijakan yang saling berkaitan. Ketika dikelola dengan baik, payroll bukan hanya soal angka tetapi menjadi wujud penghargaan terhadap kontribusi karyawan sekaligus penopang stabilitas organisasi. 

Apa Saja Kendala yang Biasa Dihadapi dalam Proses Payroll

 

Dalam praktiknya, berbagai kendala kerap muncul dalam sistem payroll, baik dari sisi teknis maupun regulasi. Jika tidak diantisipasi dengan tepat, tantangan ini dapat menimbulkan kesalahan serius dan berdampak negatif pada operasional. Berikut ini adalah beberapa tantangan umum yang perlu diwaspadai oleh setiap perusahaan. 

1. Perubahan Regulasi yang Dinamis 

Peraturan ketenagakerjaan dan perpajakan terus mengalami penyesuaian dari waktu ke waktu. Perusahaan dituntut untuk selalu mengikuti kebijakan terbaru, mulai dari pajak penghasilan, tunjangan hari raya, hingga program jaminan sosial seperti BPJS. Jika tidak diperbarui secara berkala, sistem payroll bisa tidak sesuai aturan dan menimbulkan masalah hukum. 

2. Ketidakakuratan Data Payroll 

Kualitas data yang kurang akurat bisa memicu berbagai permasalahan. Kesalahan dalam input data kehadiran, jam kerja, atau perhitungan tunjangan dapat menyebabkan gaji yang diterima tidak sesuai harapan. Hal ini dapat menurunkan semangat kerja dan menimbulkan keluhan dari karyawan. 

3. Mengelola Tim di Banyak Lokasi 

Perusahaan yang memiliki kantor cabang di berbagai wilayah atau bahkan secara internasional menghadapi tantangan tersendiri dalam payroll. Variasi regulasi lokal, mata uang yang berbeda, serta ketentuan tunjangan yang bervariasi menambah kompleksitas. Jika tidak dikelola dengan baik, hal ini dapat menyebabkan ketidaksesuaian dalam sistem pembayaran. 

4. Ketergantungan pada Metode Manual 

Masih banyak perusahaan yang mengandalkan proses manual seperti spreadsheet untuk menghitung gaji. Meskipun awalnya tampak sederhana, metode ini sangat rentan terhadap kesalahan, terutama saat jumlah karyawan bertambah. Proses yang tidak otomatis ini juga menyulitkan pelacakan data dan pembuatan laporan. 

5. Rawan Kebocoran Data  

Data payroll merupakan informasi yang sangat sensitif. Jika tidak dilindungi dengan baik, kebocoran data seperti informasi rekening dan jumlah gaji bisa membahayakan reputasi perusahaan. Ancaman keamanan ini juga dapat mengganggu kepercayaan antara perusahaan dan karyawan. 

6. Terbatasnya Sumber Daya Internal 

Banyak perusahaan belum memiliki staf internal yang benar-benar memahami proses teknis payroll. Beban administrasi yang tinggi sering kali menghambat tim HR dalam menjalankan tugas-tugas strategis. Kurangnya sumber daya manusia yang kompeten di bidang ini juga bisa menyebabkan kesalahan dalam payroll yang terjadi berulang kali. 

7. Minimnya Akses terhadap Analisis Data 

Tanpa dukungan sistem pelaporan yang andal, perusahaan akan kesulitan menganalisis efisiensi biaya tenaga kerja. Hal ini menghambat pengambilan keputusan berbasis data untuk kebijakan kompensasi dan tunjangan. Kurangnya insight juga menyulitkan perusahaan dalam merancang strategi peningkatan produktivitas. 

Tips Jitu Menghadapi Tantangan dalam Sistem Payroll 

 

Untuk menjawab tantangan-tantangan di atas, berikut adalah langkah-langkah solutif yang bisa diterapkan oleh perusahaan: 

1. Sistem yang Responsif terhadap Regulasi 

Menggunakan sistem payroll yang selalu diperbarui sesuai regulasi terbaru merupakan langkah penting yang bisa Anda lakukan. Solusi ini memungkinkan perusahaan untuk secara otomatis menyesuaikan perhitungan gaji sesuai kebijakan pemerintah yang berlaku. Selain itu, perusahaan juga bisa menggunakan jasa penyedia layanan yang memahami hukum ketenagakerjaan secara menyeluruh. 

2. Otomatisasi dan Integrasi Data 

Mengintegrasikan sistem kehadiran, HR, dan keuangan dalam satu platform digital dapat meminimalisir kesalahan input. Proses otomatis memungkinkan validasi data secara real time dan meningkatkan akurasi payroll. Selain itu, hal ini juga mempercepat proses pelaporan dan mempermudah audit. 

3. Dukungan untuk Operasi Multi Lokasi 

Gunakan sistem payroll yang mendukung multi currency dan multi lokasi agar lebih fleksibel. Sistem ini dapat menyesuaikan dengan kebutuhan spesifik di setiap wilayah operasional Anda. Dengan demikian, perusahaan tetap dapat menjaga konsistensi dan kepatuhan dalam pembayaran gaji. 

4. Modernisasi Proses Payroll 

Beralih dari proses manual ke sistem payroll otomatis akan meningkatkan efisiensi dan akurasi. Perhitungan gaji, potongan, dan tunjangan dapat dilakukan dengan cepat dan tepat. Selain itu, slip gaji dapat dikirim secara digital dan sistem menyimpan data untuk kebutuhan laporan keuangan. 

5. Sistem Keamanan Tingkat Tinggi 

Pastikan sistem yang Anda gunakan dilengkapi dengan enkripsi, kontrol akses terbatas, dan fitur backup otomatis. Teknologi ini sangat penting untuk mencegah kebocoran data sensitif. Sertifikasi keamanan dari pihak ketiga juga memberikan jaminan tambahan terhadap keandalan sistem Anda. 

6. Outsourcing untuk Efisiensi 

Menyerahkan pengelolaan gaji kepada layanan profesional membantu Anda lebih fokus menjalankan strategi utama bisnis. Karena layanan profesional akan menangani semua aspek teknis, memastikan payroll dilakukan tepat waktu dan sesuai regulasi. Langkah ini juga mengurangi tekanan administratif bagi tim internal. 

7. Pemanfaatan Insight dan Analitik 

Gunakan platform payroll yang memiliki dashboard analitik agar Anda bisa mengakses data penting kapanpun dibutuhkan. Laporan ini membantu dalam mengidentifikasi tren biaya SDM dan mengukur produktivitas. Dengan insight yang tepat, strategi manajemen karyawan Anda akan menjadi lebih terarah dan efektif. 

Mengelola payroll adalah proses yang kompleks namun sangat penting. Dengan strategi yang tepat dan bantuan teknologi yang sesuai, Anda bisa memastikan proses ini berjalan lebih lancar, akurat, dan sesuai aturan.  

Untuk solusi yang komprehensif, percayakan pengelolaan payroll dan HR Anda kepada tim profesional dari VADS Indonesia. Layanan ini membantu meningkatkan efisiensi operasional sekaligus meminimalkan risiko kesalahan dalam manajemen SDM. 

Articles

Strategi Mengelola Hubungan Pelanggan dengan Customer Relationship Management

Dipos pada 03 Jul 2025

Menjaga hubungan yang kuat dengan pelanggan bukan lagi sekadar nilai tambah, melainkan menjadi bagian penting dari keberhasilan bisnis. Perusahaan yang mampu merespons kebutuhan pelanggan secara tepat dan menjaga interaksi tetap konsisten akan lebih mudah memenangkan kepercayaan pasar. Salah satu pendekatan strategis untuk mendukung hal ini adalah dengan menerapkan Customer Relationship Management atau CRM. Simak informasi lengkap mengenai pengertian, manfaat, dan contoh pengimplementasian CRM di bawah ini.  

Apa Itu CRM? 

 

CRM (Customer Relationship Management) adalah strategi bisnis yang memanfaatkan teknologi untuk mengelola interaksi perusahaan dengan pelanggan, baik yang sudah ada maupun belum. Sistem CRM dirancang untuk membantu bisnis meningkatkan hubungan pelanggan, menyederhanakan proses, dan meningkatkan profitabilitas. 

Sistem ini menggabungkan berbagai aktivitas, seperti pengelolaan kontak, pelacakan interaksi pelanggan, otomatisasi pemasaran, dan analisis data pelanggan. Dengan CRM, perusahaan dapat memahami pelanggan secara menyeluruh, mulai dari riwayat pembelian, preferensi, hingga respons terhadap berbagai aktivitas pemasaran. 

 

Mengapa Bisnis Anda Tak Bisa Hidup Tanpa CRM? 

Mengadopsi CRM membawa dampak signifikan terhadap operasional bisnis. Berikut beberapa manfaat utama yang bisa dirasakan perusahaan: 

 

1. Meningkatkan Kepuasan Pelanggan 

Dengan menyimpan riwayat interaksi dan preferensi pelanggan, staf layanan dapat memberikan respon yang lebih cepat dan personal. Hal ini menciptakan pengalaman yang konsisten dan meningkatkan loyalitas pelanggan. 

2. Mendorong Penjualan dan Cross-Selling 

Data pelanggan yang terkumpul di CRM bisa dimanfaatkan untuk mengidentifikasi peluang upselling dan cross selling. Misalnya, pelanggan yang membeli produk A kemungkinan juga tertarik dengan produk B dan CRM akan memberikan ‘sinyal’ ini kepada tim penjualan. 

 

3. Efisiensi Proses Operasional 

CRM memudahkan pekerjaan dengan mengotomatiskan tugas-tugas administratif, seperti mengelola calon pelanggan, menjadwalkan tindak lanjut, dan membuat laporan. Dengan begitu, tim bisa lebih fokus pada pekerjaan yang lebih penting dan berdampak besar. 

4. Membantu Analisis dan Pengambilan Keputusan yang Lebih Tepat 

CRM menyajikan laporan dan tampilan data yang mudah dibaca, sehingga manajemen bisa memantau hasil penjualan, kebiasaan pelanggan, dan efektivitas promosi. Informasi ini membantu perusahaan membuat keputusan yang lebih akurat dan berdasarkan data. 

 

5. Kolaborasi Antar Tim Jadi Lebih Efektif 

Dengan CRM, semua data pelanggan tersimpan di satu tempat dan bisa diakses oleh tim yang membutuhkannya, seperti tim penjualan, pemasaran, dan layanan pelanggan. Jadi, semua tim bisa bekerja sama dengan informasi yang sama dan saling mendukung satu sama lain. 

Bagaimana CRM Diterapkan di Dunia Nyata 

 

Implementasi CRM dapat disesuaikan dengan skala dan kebutuhan bisnis. Berikut beberapa contoh nyata bagaimana CRM digunakan dalam berbagai sektor: 

Perusahaan E-commerce: Menggunakan CRM untuk mengelompokkan pelanggan berdasarkan riwayat pembelian dan minat, lalu mengirim kampanye email yang relevan dan personalisasi. 

Layanan Kesehatan: Rumah sakit dan klinik dapat menggunakan CRM untuk menjadwalkan kunjungan pasien, mengingatkan janji temu, dan mengelola histori kesehatan pasien secara efisien. 

Perusahaan Telekomunikasi: CRM dimanfaatkan untuk memantau interaksi layanan pelanggan, menangani keluhan, dan meningkatkan retensi pelanggan melalui program loyalitas. 

Industri Perhotelan:  Hotel menggunakan CRM untuk mencatat preferensi tamu, mempersonalisasi layanan saat kunjungan berikutnya, dan mengelola keanggotaan program reward

 

CRM Di Perusahaan Global  

Sejumlah perusahaan global telah menerapkan sistem CRM untuk mendongkrak kinerja layanan dan mempertahankan pelanggan. Beberapa di antaranya: 

 

1. Amazon 

Amazon mengandalkan sistem CRM canggih yang memungkinkan mereka merekomendasikan produk secara tepat berdasarkan histori pembelian dan penelusuran pengguna. CRM juga membantu Amazon dalam memberikan pengalaman belanja yang cepat dan personal. 

2. Coca-Cola 

Coca-Cola menggunakan CRM untuk mengelola jaringan distribusi, interaksi pelanggan, dan analisis data penjualan di seluruh dunia. Sistem ini membantu Coca-Cola menyesuaikan strategi pemasaran berdasarkan preferensi pasar lokal. 

3. Apple 

Apple menerapkan CRM untuk memperkuat pengalaman pengguna di seluruh kanal baik online maupun offline. Dari layanan Genius Bar hingga email pemasaran personalisasi, semua interaksi dikonsolidasikan untuk memastikan keseragaman layanan. 

4. Toyota 

Toyota menggabungkan CRM dengan data analitik untuk memantau kepuasan pelanggan setelah pembelian kendaraan. Selain itu, Toyota juga menggunakannya untuk layanan purna jual, termasuk pengingat servis berkala dan kampanye loyalitas. 

 

5. Marriott International 

Sebagai salah satu jaringan hotel terbesar di dunia, Marriott memanfaatkan CRM untuk menciptakan pengalaman tamu yang konsisten di seluruh properti mereka. Sistem ini mencatat preferensi kamar, riwayat kunjungan, dan kebiasaan tamu guna mempersonalisasi layanan. 

 

Masa Depan Bisnis Ada di Tangan CRM 

 

Tren bisnis modern sangat menekankan pada pengalaman pelanggan. Perusahaan yang dapat memberikan layanan cepat, tepat, dan personal akan lebih unggul dalam memenangkan hati pelanggan. CRM adalah alat penting dalam mencapai itu semua. 

 

Tanpa CRM, perusahaan berisiko kehilangan data penting, memberikan layanan yang tidak konsisten, dan melewatkan peluang penjualan. Sebaliknya, dengan sistem CRM yang terstruktur, perusahaan dapat menjalankan pendekatan berbasis data yang meningkatkan nilai pelanggan dalam jangka panjang. 

 

Optimalkan pengelolaan hubungan pelanggan melalui solusi CRM terintegrasi dari VADS untuk meningkatkan kepercayaan dan mendorong pertumbuhan bisnis. Temukan layanan yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan Anda di https://portal.vads.co.id/ .  

Articles

Tingkatkan Efisiensi Layanan Pelanggan dengan Hybrid Contact Center

Dipos pada 30 Jun 2025


Kebutuhan akan layanan pelanggan yang efisien, responsif, dan fleksibel semakin tinggi. Perusahaan dituntut untuk mampu menjangkau pelanggan di berbagai kanal komunikasi, mulai dari telepon hingga platform digital seperti email, live chat, dan media sosial. Untuk menjawab tantangan ini, banyak perusahaan mulai beralih ke solusi hybrid contact center. Simak informasi lengkap mengenai pengertian, kelebihan, pengurangan, dan bagaimana cara memilih hybrid contact center di bawah ini.

 

Apa Itu Hybrid Contact Center?

 

Hybrid contact center adalah sistem layanan pelanggan yang mengombinasikan dua model operasional, yaitu contact center berbasis on premise dan cloud. Sistem ini memungkinkan sebagian layanan tetap dikelola di lokasi fisik perusahaan, sementara sebagian lainnya dijalankan melalui platform berbasis awan. Kombinasi ini memberikan keleluasaan untuk mengatur sistem sesuai kebutuhan dan memaksimalkan keunggulan dari kedua model.

Pendekatan hybrid memberi perusahaan kendali penuh atas data dan sistem sensitif yang ingin diamankan secara internal.Pada saat yang bersamaan, perusahaan juga bisa lebih efisien dengan memanfaatkan teknologi cloud, terutama untuk menangani lonjakan interaksi dengan pelanggan atau kebutuhan operasional yang fleksibel seperti kerja dari jarak jauh.

 

Kelebihan Hybrid Contact Center

 

Hybrid contact center menawarkan sejumlah manfaat yang dapat meningkatkan kinerja layanan pelanggan sekaligus efisiensi operasional perusahaan. Berikut beberapa keunggulan utamanya:

 

1. Fleksibilitas Tinggi

 

Dengan model hybrid, perusahaan bisa menentukan sendiri kanal layanan mana yang dioperasikan secara lokal dan mana yang dialihkan ke cloud. Misalnya, komunikasi via telepon bisa dikelola secara on premise, sementara layanan digital seperti email atau chat ditangani melalui cloud. Fleksibilitas ini memudahkan perusahaan menyesuaikan sistem berdasarkan beban kerja dan kebutuhan spesifik.

 

2. Kapasitas Bisa Disesuaikan dengan Kebutuhan

Hybrid contact center adalah pilihan tepat untuk perusahaan yang menghadapi naik turunnya jumlah interaksi pelanggan. Ketika permintaan meningkat secara tiba-tiba, kapasitas sistem bisa ditingkatkan dengan cepat melalui cloud tanpa perlu menambah perangkat fisik. Dengan cara ini, perusahaan bisa beradaptasi secara efisien terhadap perubahan tanpa mengganggu jalannya operasional.

3. Kontrol Data yang Lebih Aman

 

Perusahaan bisa menyimpan informasi penting dan sensitif di server internal yang mereka kontrol sepenuhnya. Sementara itu, data yang bersifat umum atau tidak terlalu kritis dapat diproses melalui cloud. Pengaturan ini membantu menjaga kepatuhan terhadap kebijakan keamanan data tanpa mengurangi efisiensi.

 

4. Kemudahan Bekerja dari Mana Saja

 

Model hybrid memungkinkan agen bekerja dari rumah atau lokasi lain tanpa mengurangi kualitas layanan. Sistem cloud dapat diakses secara aman dan tetap terintegrasi dengan infrastruktur internal. Hal ini sangat membantu dalam situasi darurat atau saat perusahaan menerapkan kebijakan kerja fleksibel.

 

5. Integrasi Mudah antara Sistem Lama dan Cloud

Bagi perusahaan yang sudah memiliki sistem contact center on premise, model hybrid memungkinkan transisi ke cloud dilakukan secara bertahap. Tidak perlu membongkar seluruh infrastruktur lama karena sistem yang ada dapat disesuaikan dan diintegrasikan dengan layanan cloud.

 

Kekurangan Hybrid Contact Center

 

Meski menawarkan banyak manfaat, model hybrid juga memiliki beberapa tantangan yang perlu diperhitungkan sejak awal. Berikut ini beberapa kekurangannya:

1. Kompleksitas Integrasi

 

Menyatukan dua sistem yang berjalan di platform berbeda membutuhkan integrasi teknis yang cermat. Proses ini bisa cukup rumit dan memerlukan keterlibatan tim IT berpengalaman agar sinkronisasi berjalan lancar. Tanpa integrasi yang tepat, risiko gangguan operasional bisa meningkat.

 

2. Biaya Awal Implementasi

 

Meskipun biaya jangka panjang bisa lebih efisien, investasi awal dalam pengadaan sistem, pelatihan, dan konfigurasi awal tetap perlu diperhitungkan. Perusahaan harus merencanakan anggaran yang memadai agar transisi berjalan optimal dan tidak mengganggu operasional harian.

 

3. Risiko Ketergantungan pada Vendor

 

Jika sebagian besar layanan cloud disediakan oleh vendor eksternal, maka kualitas operasional sangat bergantung pada vendor tersebut. Oleh karena itu, penting untuk memilih mitra dengan reputasi baik, sistem andal, dan standar keamanan tinggi untuk meminimalkan risiko.

 

4. Pengelolaan Multi Platform

 

Karena sistem hybrid mencakup dua platform berbeda, pemantauan kinerja dan pengelolaan operasional menjadi lebih kompleks. Diperlukan dashboard atau alat monitoring terpusat yang bisa menyatukan data dari kedua sistem agar performa bisa dinilai secara menyeluruh.

 

Tips Memilih Hybrid Contact Center yang Tepat

 

Agar implementasi hybrid contact center memberikan hasil maksimal, perusahaan perlu mempertimbangkan beberapa aspek penting sebelum memilih solusi:

 

1. Identifikasi Kebutuhan Bisnis

 

Mulailah dengan meninjau kembali proses layanan pelanggan yang berjalan saat ini. Identifikasi kanal komunikasi yang paling sering digunakan, beban kerja rata-rata, serta kebutuhan keamanan data. Dengan informasi ini, Anda bisa menentukan bagian mana yang perlu dikelola on premise dan mana yang lebih efektif dijalankan melalui cloud.

 

2. Pilih Penyedia Layanan Terpercaya

 

Vendor yang berpengalaman dan memiliki portofolio kuat akan membantu Anda mengurangi risiko implementasi. Pastikan penyedia memiliki sistem yang fleksibel, dukungan teknis yang memadai, dan mampu menangani kebutuhan bisnis Anda secara menyeluruh. Lihat juga apakah mereka memiliki sertifikasi dan standar keamanan yang relevan.

 

3. Perhatikan Kemudahan Integrasi

Pastikan sistem hybrid dapat terhubung dengan sistem lain seperti CRM, ticketing system, atau platform analitik. Integrasi yang mulus akan mempercepat proses adaptasi dan mengurangi hambatan teknis selama operasional.

 

4. Evaluasi Fitur Monitoring dan Reporting

 

Sistem monitoring yang komprehensif memungkinkan perusahaan memantau performa agen, tingkat kepuasan pelanggan, dan efisiensi operasional secara real time. Fitur pelaporan yang intuitif juga membantu dalam pengambilan keputusan yang berbasis data.

 

5. Uji Coba Sebelum Implementasi Penuh

 

Sebelum mengalihkan seluruh sistem, lakukan pengujian awal dalam bentuk pilot project atau proof of concept (POC). Hal ini memungkinkan perusahaan menilai kinerja sistem hybrid dalam konteks operasional aktual tanpa risiko besar.

 

Hybrid contact center kini menjadi solusi strategis bagi perusahaan yang ingin menghadirkan layanan pelanggan fleksibel dan efisien di era digital. Dengan dukungan infrastruktur andal dan keahlian teknis, VADS Indonesia siap membantu mewujudkan sistem yang aman, terintegrasi, dan sesuai kebutuhan bisnis Anda.

News

PT VADS Indonesia Meraih Penghargaan “The Best Execution Winner in Outsourcing Industry” di SPEx2® Award 2025

Dipos pada 30 Jun 2025

PT VADS Indonesia kembali menorehkan prestasi membanggakan di kancah nasional dengan meraih penghargaan sebagai “The Best Execution Winner in Outsourcing Industry” dalam ajang Strategy and Performance Execution Excellence (SPEx2®) Award 2025. Penghargaan ini diberikan kepada perusahaan-perusahaan yang mampu mengeksekusi strategi bisnis secara konsisten dan unggul, khususnya di tengah berbagai tantangan dan ketidakpastian industri saat ini. 

Diselenggarakan pada Kamis, 26 Juni 2025, di Hotel Le Méridien Jakarta, SPEx2® Award 2025 merupakan inisiatif dari KONTAN dan GML Performance Consulting dengan tema “Business Model Innovation in Uncertain Times”. Ajang ini merupakan bentuk apresiasi bagi organisasi yang mampu mengubah strategi menjadi hasil nyata melalui proses transformasi yang efektif, keselarasan internal, dan pemantauan kinerja secara berkelanjutan. 

Pengakuan ini menjadi bukti nyata dari komitmen PT VADS Indonesia dalam mendorong transformasi digital secara menyeluruh, sekaligus memperkuat sistem manajemen yang responsif dan kolaboratif. Berbagai inisiatif strategis telah dijalankan, mulai dari pengembangan kapabilitas digital, penerapan teknologi kecerdasan buatan dalam operasional, hingga penyelenggaraan pelatihan berkelanjutan untuk meningkatkan kompetensi karyawan. Upaya tersebut menjadi cerminan kesiapan perusahaan dalam menghadapi disrupsi dan dinamika industri yang terus berkembang. 

Lebih dari sekadar pengakuan, penghargaan ini juga semakin mengukuhkan posisi PT VADS Indonesia sebagai perusahaan outsourcing yang tidak hanya unggul dari sisi teknis, tetapi juga memiliki pandangan jangka panjang yang dilandasi oleh inovasi dan semangat kolaboratif. 

Penghargaan ini merupakan hasil kerja keras seluruh tim VADS Indonesia. Tanpa semangat kolaborasi dan dedikasi setiap individu, pencapaian ini tidak mungkin terwujud. Kami percaya bahwa eksekusi strategi yang kuat hanya bisa dicapai ketika semua orang bergerak dalam satu tujuan. Saya sangat menghargai kontribusi setiap karyawan, dan pencapaian ini adalah milik kita bersama.”ujar Saravanan Belusami, CEO PT VADS Indonesia. 

SPEx2® Award sendiri merupakan ajang tahunan yang menilai keunggulan perusahaan dalam mengeksekusi strategi organisasi berdasarkan lima dimensi utama: komitmen manajemen, transformasi organisasi, pemetaan strategi, keselarasan antar fungsi, serta pelaksanaan dan pemantauan yang berkelanjutan. Penilaian dilakukan secara independen oleh tim ahli dari GML Performance Consulting dengan pendekatan yang menyeluruh dan objektif. 

Bagi PT VADS Indonesia, penghargaan ini menjadi motivasi baru untuk terus memperkuat performa bisnis, mendorong inovasi layanan, dan mempertahankan budaya kerja kolaboratif yang telah menjadi pondasi perusahaan. Dengan bekal integritas dan dedikasi tinggi, PT VADS Indonesia optimis dapat terus memberikan dampak positif, baik bagi klien, karyawan, maupun masyarakat secara luas. 

Articles

IT Outsourcing: Pengertian, Manfaat, dan Model

Dipos pada 26 Jun 2025

IT (Information Technology) merupakan fondasi penting bagi operasional bisnis modern. 

Mulai dari pengelolaan data, komunikasi internal, hingga pelayanan pelanggan, hampir seluruh aspek perusahaan kini terhubung dengan sistem digital. Namun, mengelola fungsi IT secara mandiri tidak selalu efisien, terutama bagi perusahaan yang ingin tetap fokus pada pengembangan bisnis inti.

 

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, banyak perusahaan memilih menggunakan IT outsourcing, yaitu menyerahkan pengelolaan layanan IT kepada penyedia eksternal yang kompeten. Strategi ini dinilai mampu mengoptimalkan efisiensi, memperkuat infrastruktur teknologi, dan mengurangi beban biaya operasional. Simak informasi lengkap mengenai pengertian, manfaat, dan model IT outsourcing di bawah ini.

Pengertian IT Outsourcing

IT outsourcing adalah strategi bisnis yang melibatkan pelimpahan sebagian atau seluruh tugas terkait teknologi informasi kepada pihak ketiga. Tugas tersebut mencakup pengelolaan infrastruktur IT, pengembangan perangkat lunak, pemeliharaan sistem, hingga layanan bantuan teknis seperti help desk.

 

Dalam praktiknya, IT outsourcing tidak hanya digunakan oleh perusahaan besar, tetapi juga mulai diadopsi oleh bisnis skala menengah dan kecil. Alasannya sederhana, kini teknologi menjadi bagian penting dalam hampir semua lini operasional, sementara tidak semua perusahaan memiliki sumber daya atau keahlian untuk mengelolanya secara mandiri.

 

Selain itu, IT outsourcing juga memberi fleksibilitas dalam menjalankan proyek berskala tertentu, seperti migrasi sistem, pengembangan aplikasi, atau peningkatan keamanan data. Dengan bantuan mitra teknologi yang andal, perusahaan bisa menyesuaikan kebutuhan tanpa harus melakukan rekrutmen permanen, sehingga lebih cepat beradaptasi terhadap perubahan pasar dan teknologi.

 

Manfaat IT Outsourcing untuk Bisnis

 

Pada dasarnya menggunakan IT outsourcing bisa membawa manfaat strategis bagi perusahaan, terutama dalam efisiensi biaya dan peningkatan fokus bisnis. Berikut beberapa manfaat utamanya:

 

1. Hemat Biaya Tanpa Menurunkan Kualitas Penghematan Biaya & Peningkatan Kualitas

 

Salah satu alasan utama perusahaan menggunakan IT outsourcing adalah untuk menekan biaya operasional. Dengan IT outsourcing, perusahaan tidak perlu berinvestasi besar dalam infrastruktur IT atau merekrut tim internal yang mahal karena penyedia layanan sudah memiliki sumber daya manusia dan teknologi yang dibutuhkan.

 

2. Mendapatkan Dukungan Tenaga Ahli 

 

Penyedia layanan IT outsourcing umumnya memiliki staf yang sudah berpengalaman dan bersertifikat di bidang teknologi. Dengan begitu, perusahaan bisa langsung memanfaatkan teknologi dan keahlian terbaru tanpa perlu mengembangkan semuanya sendiri dari nol.

 

3. Meningkatkan Efisiensi 

Dengan IT outsourcing, perusahaan dapat lebih fokus pada kegiatan inti bisnis seperti pengembangan produk, layanan pelanggan, dan strategi pertumbuhan. Hal ini membantu meningkatkan efisiensi waktu dan sumber daya.

4. Layanan Bisa Disesuaikan Sesuai Kebutuhan

 

IT outsourcing memberikan kemudahan untuk menyesuaikan skala layanan sesuai kebutuhan bisnis. Ketika perusahaan berkembang atau mengalami fluktuasi, penyedia layanan dapat dengan cepat menyesuaikan kapasitas, baik dari sisi tenaga kerja maupun teknologi.

 

5. Data Lebih Aman

 

Umumnya penyedia IT outsourcing memiliki sistem keamanan yang canggih dan standar kepatuhan yang tinggi. Hal ini dapat membantu perusahaan mengurangi risiko kebocoran data, serta memenuhi peraturan dan regulasi industri, khususnya dalam hal data protection dan cybersecurity.

 

Model IT Outsourcing yang Paling Umum Digunakan

 

Dalam dunia IT outsourcing, terdapat beberapa model kerja sama yang bisa dipilih sesuai dengan kebutuhan proyek, anggaran, dan ketersediaan sumber daya internal, beberapa diantaranya, yaitu: 

 

1. Staff Augmentation

Staff augmentation adalah model IT Outsourcing yang dilakukan dengan cara menambah tenaga kerja IT saat perusahaan membutuhkan karyawan dengan keahlian tertentu tanpa harus merekrut karyawan tetap. Meski tercatat sebagai pegawai dari vendor, tim ini bekerja penuh waktu untuk perusahaan sampai proyek berakhir. 

2. Project Based IT Outsourcing

 

Model ini cocok untuk proyek kecil hingga menengah dengan spesifikasi yang jelas. Dengan model ini, vendor akan menangani seluruh proyek dan bertanggung jawab atas hasil akhirnya, sedangkan perusahaan klien hanya perlu memantau secara berkala tanpa terlibat langsung dalam proses harian.

 

3. Dedicated Software Development Team

 

Perusahaan dapat membentuk tim pengembang khusus yang dipilih berdasarkan kebutuhan teknis. Dengan model ini, klien bisa mengelola tim secara langsung atau menunjuk manajer proyek dari pihak vendor. Seluruh aspek administratif ditangani oleh vendor, sehingga perusahaan hanya fokus pada hasil kerja.

 

IT outsourcing adalah strategi modern yang efektif untuk meningkatkan efisiensi, mengakses keahlian, dan fokus pada pertumbuhan bisnis. Namun, keberhasilan implementasinya sangat tergantung pada pemilihan mitra yang tepat, perencanaan kontrak yang jelas, dan manajemen risiko yang cermat. Perusahaan perlu mempertimbangkan manfaat dan tantangan secara menyeluruh sebelum mengambil keputusan.

Percayakan Solusi IT Outsourcing Anda pada VADS Indonesia

 

Jika Anda sedang mencari mitra IT outsourcing terpercaya yang mampu menghadirkan layanan berbasis teknologi unggul dan aman, VADS Indonesia adalah pilihan tepat. Dengan pengalaman bertahun-tahun dalam menangani solusi teknologi untuk berbagai industri, VADS siap mendukung pertumbuhan bisnis Anda melalui layanan yang fleksibel, efisien, dan profesional. Temukan solusi teknologi terbaik di sini: https://portal.vads.co.id/

 

 

Articles

Omnichannel: Strategi Layanan Pelanggan Modern yang Tak Boleh Dilewatkan

Dipos pada 23 Jun 2025

Omnichannel adalah strategi pemasaran yang dilakukan melalui berbagai saluran atau channel sambil tetap memperhatikan kenyamanan pelanggan. Beberapa channel yang biasanya digunakan dalam perusahaan untuk menerapkan omnichannel, yaitu panggilan telepon, email, obrolan langsung, media sosial, dan aplikasi pengiriman pesan. Dengan pendekatan ini, pelanggan dapat berinteraksi dengan bisnis melalui berbagai saluran tanpa kehilangan konsistensi dan kualitas layanan.

Saat ini omnichannel juga telah diterapkan dalam berbagai industri, seperti ritel, keuangan, kesehatan, pendidikan, hingga layanan publik. Untuk memahami lebih lanjut mengenai manfaat, tantangan, serta contoh nyata strategi omnichannel, mari kita simak artikel ini hingga akhir.

 

Manfaat Menerapkan Omnichannel

Pada dasarnya omnichannel memiliki banyak manfaat yang sayang untuk dilewatkan. Namun, secara garis besar ada tiga keuntungan utama dari strategi ini, yaitu:

 

1. Meningkatkan Kepuasan Pelanggan

Salah satu manfaat utama dari menerapkan omnichannel adalah meningkatnya kepuasan pelanggan. Ketika pelanggan menerima dukungan yang konsisten di semua saluran, mereka merasa lebih dihargai dan dipahami. Hal ini akan menciptakan pengalaman layanan yang lebih nyaman karena pelanggan tidak perlu menjelaskan ulang masalah mereka setiap kali berpindah saluran komunikasi. Omnichannel secara tidak langsung juga berperan dalam menjaga komunikasi yang lancar dan membuat pelanggan merasa diperhatikan, sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan loyalitas.

 

2. Meningkatkan Efisiensi Operasional

Dengan dukungan omnichannel, agen bisa mengakses seluruh riwayat komunikasi pelanggan secara terintegrasi. Tidak lagi perlu mencari informasi dari sistem yang berbeda atau meminta pelanggan mengulang data yang sama. Ini membuat waktu penyelesaian masalah menjadi lebih cepat dan efisien. Selain meningkatkan produktivitas agen, perusahaan juga bisa menghemat biaya operasional jangka panjang karena proses penanganan pelanggan berjalan lebih sistematis dan minim hambatan.

 

3. Meningkatkan Loyalitas Pelanggan

Interaksi yang lancar dan konsisten di berbagai saluran membangun kepercayaan yang kuat antara pelanggan dan bisnis. Pelanggan yang puas dengan pengalaman komunikasi cenderung untuk kembali membeli produk atau layanan. Bahkan, tak jarang mereka akan merekomendasikan brand tersebut ke lingkungan sekitar mereka. Efek domino dari kepuasan ini tentu berdampak positif terhadap perluasan pasar dan peningkatan angka retensi pelanggan.

 

Tantangan dalam Menerapkan Omnichannel

 

Walaupun menawarkan banyak manfaat, implementasi omnichannel juga bukan tanpa tantangan. Berikut beberapa kendala umum yang perlu diantisipasi:

 

1. Integrasi Sistem yang Kompleks

Salah satu hambatan terbesar dalam menerapkan strategi omnichannel adalah kebutuhan akan integrasi teknologi yang kompleks. Semua sistem harus bisa berkomunikasi satu sama lain agar data pelanggan dapat diakses secara real time. Tanpa sistem yang terintegrasi dengan baik, pengalaman pelanggan justru bisa terganggu karena terjadi inkonsistensi informasi antar saluran.

 

2. Kebutuhan Pelatihan Agen yang Lebih Intensif

Agen yang bertugas menangani layanan omnichannel perlu dibekali dengan pelatihan khusus. Mereka harus mampu memahami karakteristik tiap saluran komunikasi, mengelola percakapan simultan, serta menguasai teknologi pendukung seperti CRM atau dashboard omnichannel. Tanpa pelatihan yang tepat, produktivitas, dan akurasi layanan bisa menurun.

 

3. Data Security dan Privasi Pelanggan

Karena omnichannel mengumpulkan dan menyimpan banyak data pelanggan dari berbagai platform, risiko keamanan data menjadi perhatian penting. Perusahaan harus memastikan bahwa sistem yang digunakan memenuhi standar perlindungan data dan memiliki sistem enkripsi serta backup yang andal untuk mencegah kebocoran informasi.

 

Contoh Penerapan Omnichannel yang Sukses

Banyak brand besar yang sudah berhasil menerapkan strategi omnichannel secara optimal. Misalnya, sektor perbankan kini memungkinkan nasabah mengakses layanan via mobile app, call center, hingga chatbot dengan transisi yang mulus. Di industri ritel, pelanggan dapat memesan produk secara online dan mengambilnya langsung di toko fisik tanpa antre.

Contoh lainnya datang dari sektor pendidikan, di mana lembaga pelatihan kini menyediakan kanal layanan melalui WhatsApp, email, dan live chat di website, memungkinkan calon peserta mendapatkan informasi dengan cepat dari berbagai titik.

Semua contoh ini menunjukkan bagaimana integrasi antar channel yang baik dapat menciptakan pengalaman pelanggan yang menyenangkan dan berdampak langsung pada performa bisnis.

Strategi omnichannel bukan lagi sekadar pilihan, tetapi menjadi keharusan bagi perusahaan yang ingin tetap relevan di tengah persaingan yang semakin digital. Dengan manfaat seperti peningkatan kepuasan pelanggan, efisiensi operasional, hingga loyalitas jangka panjang, omnichannel terbukti menjadi pendekatan terbaik untuk menjawab tuntutan konsumen masa kini. Namun tentu saja, dibutuhkan perencanaan matang, sistem teknologi yang terintegrasi, serta tim yang kompeten untuk menjalankannya secara efektif.


Sebagai penyedia solusi yang berpengalaman, VADS Indonesia siap membantu bisnis Anda dalam merancang dan mengimplementasikan strategi omnichannel yang efektif. Hubungi VADS Indonesia untuk konsultasi lebih lanjut.

 

News

Yuk, Cari Tahu Peran dan Tanggung Jawab Real Time Floor Management

Dipos pada 20 Jun 2025

Operasional call center dituntut untuk selalu bergerak cepat dan responsif demi menjaga kualitas layanan. Salah satu faktor penting yang memastikan kelancaran proses kerja adalah peran Real Time Floor Management (RTFM). Kalau Anda saat ini bekerja atau tertarik membangun karier di industri call center, memahami peran ini perlu dilakukan adalah kunci agar Anda tahu bagaimana menjaga operasional tetap stabil, terarah, dan efisien setiap saat.

RTFM bukan hanya sekadar memantau aktivitas agen secara langsung, tetapi juga memastikan setiap proses layanan berjalan sesuai standar, target SLA (Service Level Agreement) tercapai, serta dapat mengambil tindakan cepat saat terjadi masalah. Yuk, cari tahu lebih lanjut tentang apa itu Real Time Floor Management dan apa saja tanggung jawab utamanya di call center.

Apa Itu Real Time Floor Management?

 

Real Time Floor Management (RTFM) adalah proses pemantauan aktivitas di call center secara langsung dan real time. Tujuannya adalah untuk menjaga agar setiap lini operasional berjalan lancar dan seimbang. Tim RTFM bertugas mengawasi antrian panggilan, ketersediaan agen, dan memastikan setiap permintaan pelanggan ditangani dalam waktu yang optimal.

Dalam praktiknya, RTFM menggunakan dashboard pemantauan yang menampilkan metrik seperti Average Handling Time (AHT), Call Abandonment Rate, jumlah panggilan yang sedang dalam antrian, hingga waktu istirahat agen. Monitoring ini dilakukan secara live, sehingga setiap perubahan kecil dalam volume trafik atau performa agen bisa langsung ditangani.

 

Mengapa RTFM Penting di Call Center?

 

Anda mungkin bertanya-tanya, apa jadinya jika tidak ada RTFM di call center? Tanpa pemantauan yang akurat dan intervensi cepat, potensi keterlambatan layanan bisa meningkat drastis. Misalnya, ketika jumlah panggilan tiba-tiba melonjak karena promo tertentu atau kejadian darurat, RTFM akan segera menyusun ulang workforce deployment, memanggil agen cadangan, atau mengalihkan panggilan ke tim lain agar SLA tetap tercapai.

Selain itu, RTFM juga menjaga keseimbangan beban kerja antar agen, mencegah kelelahan, dan membantu mengatur waktu istirahat agar tetap sesuai aturan. Hal inilah yang menyebabkan peran RTFM sangat krusial untuk menjaga kualitas layanan pelanggan.

 

Tanggung Jawab Utama RTFM

 

Sebagai RTFM, Anda akan bertanggung jawab pada beberapa aspek operasional yang sifatnya taktis. Berikut beberapa tanggung jawab utama yang wajib Anda pahami:

1. Monitoring Lalu Lintas Panggilan

 RTFM memantau jumlah panggilan masuk, durasi layanan, waktu tunggu, dan tren volume panggilan. Hal ini menjadi dasar dalam pengambilan keputusan real time.

2. Mengelola Ketersediaan Agen

 Salah satu tugas utama RFTM adalah memastikan agen tersedia dalam jumlah cukup sesuai kebutuhan. Bila diperlukan, seorang RFTM juga harus mengatur ulang skedul shift atau meminta dukungan dari tim cadangan.

3. Menangani Gangguan Layanan

Saat terjadi sistem error, gangguan jaringan, atau lonjakan panggilan, RTFM akan segera melakukan eskalasi ke bagian teknis atau supervisor.

4. Koordinasi Antardepartemen

RTFM menjadi jembatan koordinasi antara tim agen, supervisor, WFM (Workforce Management), dan IT support agar segala hambatan bisa diselesaikan cepat.

5. Menyusun Laporan Harian

Setiap perubahan dan intervensi yang dilakukan selama shift akan dicatat dalam laporan real time, yang menjadi dasar evaluasi tim operasional.

 

Skill yang Dibutuhkan untuk Menjadi RTFM yang Andal

Kalau Anda tertarik menjadi seorang RTFM, berikut beberapa keterampilan yang perlu Anda miliki:

  • Kecepatan Analisis: Anda harus mampu membaca dashboard dan menyimpulkan situasi dengan cepat untuk mengambil tindakan yang tepat.
  • Tegas dan Harus Bisa Bertindak Cepat: Saat menjadi RTFM Anda tidak ada waktu untuk ragu karena keputusan harus diambil seketika saat terjadi masalah.
  • Kemampuan Komunikasi: Karena Anda harus berkoordinasi dengan banyak pihak, komunikasi yang jelas dan efektif sangat penting.
  • Kemampuan Multitasking: Memantau berbagai indikator sekaligus sambil melakukan komunikasi aktif dengan tim membutuhkan fokus tinggi.
  • Menguasai Tools RTFM: Familiar dengan sistem real time monitoring seperti Avaya CMS, Genesys, atau alat WFM lainnya akan sangat membantumu.

 

Tantangan dalam Peran RTFM

Menjadi RTFM tidak selalu mudah. Anda harus siap menghadapi tekanan tinggi, terutama saat terjadi traffic spike. Selain itu, Anda juga harus sigap dalam membuat keputusan yang berdampak besar terhadap operasional. Tantangan lain adalah ketika agen tidak disiplin mengikuti jadwal, atau saat sistem mengalami gangguan, di mana Anda harus mencari solusi cepat tanpa mengorbankan kualitas layanan.

Namun, dengan latihan dan pelatihan yang tepat, Anda bisa mengasah insting operasional dan meningkatkan kemampuan pengambilan keputusan secara real time.

 

RTFM vs Quality Assurance: Apa Bedanya?

 

Meskipun sama-sama fokus pada pemantauan performa, peran RTFM dan Quality Assurance (QA) sangat berbeda. QA fokus pada evaluasi hasil akhir layanan, seperti cara agen menyapa pelanggan, etika, dan kesesuaian skrip. Sementara RTFM fokus pada kondisi layanan secara langsung, apakah agen tersedia, apakah antrian stabil, dan apakah sistem berjalan optimal saat itu juga.

Kolaborasi antara RTFM dan QA sangat penting agar call center tetap berjalan lancar dan berkualitas.

 

Ingin Jadi RTFM yang Andal dan Profesional?

Kalau Anda merasa tertarik untuk menjadi bagian penting dalam operasional contact center, sekarang saatnya Anda meningkatkan kompetensimu lewat pelatihan profesional, yuk ikut Pelatihan "Menjadi RTFM yang Efektif pada Contact Center”. Dengan mengikuti pelatihan ini Anda akan belajar langsung dari praktisi industri tentang bagaimana memonitor operasional secara real time, mengelola krisis dalam shift, serta teknik pengambilan keputusan cepat yang berdampak besar pada kualitas layanan. Materinya dirancang khusus agar relevan dengan kebutuhan operasional terkini di industri contact center.

 

Dengan mengikuti pelatihan ini, Anda nggak hanya akan lebih siap dalam menjalani peran sebagai RTFM, tapi juga lebih percaya diri saat harus mengambil keputusan penting dalam waktu singkat. Yuk, maksimalkan karier Anda di dunia call center dan jadi ujung tombak yang memastikan operasional tetap stabil dan pelanggan merasa senang. 

 

Bersama melangkah lebih maju untuk masa depan bisnis Anda.

Hubungi kami segera untuk mengetahui bagaimana VADS dapat membantu meningkatkan bisnis Anda.

Saya Tertarik